Kasus Pencabulan Anak Kiai Pondok Pesantren Jombang

Gemparnya Kasus Pencabulan Anak Kiai Pesantren Jombang

Kasus Pencabulan Anak Kiai
Sumber: Sindonews.com

Kasus pencabulan anak Kyai yang tengah gempar terhadap santriwati ini dilakukan oleh seorang putra kyai pondok pesantren di Jombang. Beliau bernama  Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi.

Semula beliau belum menyerahkan diri hingga kasus ini dilimpahkan pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Lalu, setelahnya barulah beliau menyerahkan diri kepada pihak polisi. Pihak Kejaksaan Tinggi atau Kejati Jatim ini  membenarkan mengenai penyerahan tersangka dari kasus tersebut. Dalam kasus tersebut, terdapat lima orang yang mengajukan laporan mengenai kasus tersebut.

Dirkrimum Polda Jawa Timur, Kombes Pol Totok Suharyanto di Rutan Medaeng, berujar bahwa “Tepat pukul 09.30 secara administrasi sudah menyerahkan tahap dua tersangka dan barang bukti, lalu setelah diterima langsung oleh JPU sekaligus disampaikan oleh pihak aspidum dan pak Kajari Jombang.

Sekaligus untuk tahapan berikutnya yaitu tahapan peradilan sepenuhnya akan dilaksanakan oleh rekan dari JPU.”

Pasal untuk Kasus Pencabulan Anak Kyai

Sesuai dengan berkas penyelidikan, korban yang sudah melapor mengenai tersangka perihal pencabulan ini sebanyak lima orang. “Untuk korban ada lima,” ujar Aspidum Kejati Jatim Sofyan Selle.

Kasus pencabulan dengan tersangka Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi dijerat dengan pasal 285 KUHP tentang Perkosaan.

Dan juga Pasal 65 KUHP dengan ancaman hukuman pidana 12 tahun penjara, atau Pasal 289 KUHP Pasal 65 dengan ancaman pidana 9 tahun penjara, serta Pasal 294 ayat 2 P2KP Pasal 65 KUHK dengan ancaman pidana 7 tahun penjara.

Pihak Kejati Jatim juga menerangkan bahwa mereka akan segera menyelesaikan berkas dan kemudian secepatnya melimpahkan kasus ke pengadilan agar bisa untuk segera diproses.

Dan pihak kejati jatim juga menyatakan bahwa untuk proses persidangan untuk kasus pencabulan ini akan segera dilaksanakan.

Penolakan dari Tersangka MSA

Petugas gabungan dari Polda Jatim dan Polres Jombang telah melakukan pencarian sekaligus penggeledahan di Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang. Putra dari kiai ini pun sudah masuk DPO selama enam bulan buron atas kasus pencabulan yang telah beliau lakukan.

Putra Kiai Jombang dengan nama asli Muhammad Muhtar Mu’thi tersebut sempat menolak untuk dibawa oleh pihak kepolisian.

Hingga terjadi penghalauan yang dilakukan oleh beberapa orang dikarenakan pergolakan dalam membawa tersangka kasus pencabulan tersebut oleh pihak polisi.

Bahkan dalam kasus pencabulan ini Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Waryono Abdul Ghofur turut mendorong penegakan hukum atas kasus pencabulan yang dilaukan oleh anak kiai di Jombang, Jawa Timur.

Beliau sejak awal munculnya kasus ini sudah memberikan dukungan agar aparat segera memproses tersangka dari kasus pencabulan tersebut.

Tak hanya itu, Kemenag juga mempertimbangkan pembekuan izin pondok pesantren jika aparat kepolisian masih dihalangi dalam proses penegakan hukum.

Sebelumnya, putra kiai Jombang ini, ditetapkan menjadi tersangka kasus pencabulan terhadap santriwati yang dilakukan dalam lingkup pesantren milik orangtuanya.

Beliau dilaporkan kepada pihak polisi pada 29 Oktober 2019 oleh korban dengan inisial NA. Dimana korban merupakan salah seorang santri perempuan di pondok pesantren jombang yang berasal dari Jawa Tengah.

Pada 12 November 2019 kemarin , Polres Jombang mengeluarkan surat perintah untuk dimulainya proses penyidikan. Lalu pada Januari 2020, akhirnya Polda Jatim mengambil alih kasus tersebut.

MSA berusaha untuk melawan penetapan dirinya sebagai tersangka dengan meluncurkan gugatan ke Pengadilan Negeri Surabaya namun gugatan tersebut ditolak.

Beliau kemudian kembali mengajukan gugatan ke PN Jombang dan sekali lagi gugatan tersebut juga ditolak. Polda Jatim pun menetapkan MSA sebagai DPO dan memintanya beliau untuk menyerahkan diri kepada pihak berwajib.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.