MENU Rabu, 18 Feb 2026
x

Ketegasan Jenderal Sutanto dan Standar Kepemimpinan Yang Dirindukan

waktu baca 3 menit
Selasa, 17 Feb 2026 12:10 11 Redaksi

Detikidn.com-Di tengah berbagai tantangan penegakan hukum yang semakin kompleks, nama Jenderal Sutanto kerap kembali diperbincangkan. Bukan semata karena jabatannya sebagai Kapolri periode 2005–2008, melainkan karena gaya kepemimpinannya yang lugas, tegas, dan minim kompromi terhadap pelanggaran hukum.

Kalimatnya yang terkenal, “Tertibkan, atau Anda saya copot!”, bukan sekadar retorika keras. Itu adalah pesan organisasi. Ia ingin memastikan bahwa institusi kepolisian berdiri di atas disiplin internal yang kuat sebelum menuntut ketaatan publik terhadap hukum. Ketegasan ke dalam menjadi fondasi ketegasan ke luar.

Saat menjabat Kapolda Sumatera Utara, ia dikenal berani menyentuh praktik perjudian yang selama bertahun-tahun dianggap sulit diberantas. Pendekatannya sederhana namun efektif: tidak ada toleransi, tidak ada pembiaran, dan tidak ada perlindungan bagi oknum. Pesannya jelas—hukum tidak boleh kalah oleh jaringan informal atau kepentingan tersembunyi.

Ketika kemudian dilantik sebagai Kapolri oleh Susilo Bambang Yudhoyono pada 2005, publik menyaksikan pola yang sama diterapkan secara nasional. Program 100 hari pemberantasan judi menjadi simbol bahwa komitmen itu bukan hanya janji seremonial. Penindakan dilakukan merata, dari kota besar hingga pelosok daerah. Dalam waktu relatif singkat, efek kejut terasa luas.

Tak berhenti pada perjudian, perhatian juga diarahkan pada praktik mafia migas dan premanisme yang meresahkan masyarakat. Langkah ini menunjukkan bahwa penegakan hukum tidak boleh selektif. Kejahatan kerah putih dan kejahatan jalanan sama-sama harus ditangani. Negara, dalam pandangan kepemimpinan seperti ini, tidak boleh tunduk pada kekuatan informal apa pun.

Salah satu catatan penting lain pada masa kepemimpinannya adalah keberhasilan operasi kontra-terorisme, termasuk penindakan terhadap tokoh teroris seperti Dr. Azahari pada 2005. Keberhasilan tersebut mengangkat reputasi kepolisian Indonesia di mata internasional dan menunjukkan kapasitas profesional yang mumpuni.

Namun yang paling menonjol dari sosok Sutanto bukan hanya keberhasilan operasi, melainkan warisan nilai: integritas dan keberanian mengambil keputusan. Banyak pemimpin cerdas, tetapi tidak semua berani mengambil risiko demi menegakkan aturan. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal popularitas, melainkan konsistensi.

Gaya kepemimpinan seperti ini memang tidak selalu nyaman. Tegas berarti ada yang ditegur, bahkan dicopot. Tetapi justru dari ketidaknyamanan itulah lahir disiplin dan kepercayaan publik. Ketika aparat melihat atasannya tidak ragu menindak pelanggaran internal, pesan moralnya kuat: institusi ini serius membersihkan diri.

Di era ketika masyarakat semakin kritis dan ekspektasi terhadap aparat penegak hukum semakin tinggi, standar seperti yang pernah ditunjukkan Jenderal Sutanto menjadi rujukan. Ia membuktikan bahwa kepolisian bisa berdiri tegas tanpa kehilangan legitimasi publik.

Tentu setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Tetapi prinsip dasar kepemimpinan—integritas, keberanian, dan konsistensi—tidak pernah lekang oleh waktu. Ketegasan yang berpihak pada hukum, bukan pada kepentingan, selalu relevan.

Pada akhirnya, sosok seperti Jenderal Sutanto mengingatkan bahwa hukum tidak hanya ditegakkan dengan peraturan tertulis, tetapi dengan karakter pemimpinnya. Dan ketika karakter itu kuat, kepercayaan publik pun ikut menguat.

(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x