Tradisi Jepang yang Tak Ada di Negara Lain. Siap-siap Kaget!

Aneh, Tradisi Jepang ini Masih Dirayakan Hingga Kini

Tradisi jepang tentunya sangat beragam dan unik. Jepang atau negara tirai bambu ini mungkin terkenal sebagai salah satu negara dengan budaya kehidupan seksualitas yang paling longgar.

Tradisi Jepang
Sumber: hipwee.com

Bahkan, budaya seks di negara jepang terkenal bebas dan ini berlangsung dari era masa lampau. Tradisi tersebut di negara Jepang diadakan guna untuk menghormati leluhur yang sudah tiada.

 Tradisi Jepang Berkaitan dengan Kehidupan Seksualitas

  1. Ososo matsuri
    Jepang memiliki sebuah festival yang dikenal dengan festival shinto kuno atau disebut juga dengan Ososo Matsuri. Festival ini secara harfiah dapat diartikan sebagai festival vagina. Perayaan tersebut dimaksudkan untuk kesehatan wanita.

    Namun, tidak hanya itu festival ini diadakan juga untuk mensyukuri atas jumlah panen yang melimpah dan segala macam kemakmuran serta kesuburan.Para warga setempat memiliki kepercayaan bahwa dengan melaksanakan perayaan unik ini, mereka dapat menyembuhkan kemandulan, impotensi, dan menjamin kesuksesan bisnis serta kesuburan pada tahun yang akan datang.

  1. Geisha
    Geisha ini berawal dari wanita penghibur. Profesi ini terus berkembang hingga menjadi wanita penghibur kelas atas yang kadang derajatnya disetarakan dengan seniman.Geisha diwajibkan untuk menjalani pelatihan khusus selama beberapa tahun dan wajib menguasai sejumlah cabang seni seperti tari, musik, dan sastra.

    Jika biasanya pekerja seks dipandang negative maka, tradisi geisha justru dibanggakan oleh kebanyakan orang Jepang. Hanya para wanita dengan bakat besar yang diperbolehkan menjalani pelatihan sebagai geisha.

    Sementara untuk para pelanggan pria, berhubungan dengan geisha merupakan sebuah gengsi. lantaran, geisha bisa memilih pelanggan yang mereka inginkan.

  1. Honen Matsuri
    Honen Matsuri merupakan festival panen yang akan dirayakan oleh warga Komaki, Aichi setiap tanggal 15 Maret. Panen yang dirayakan tidak harus berupa hasil pertanian.Tetapi, dapat berupa Uang yang berlimpah, ternak, dan hadirnya keturunan.

    Hal – hal tersebut dianggap sebagai panen yang patut untuk disyukuri.Festival ini terdiri dari ritual mengarak mikoshi (kuil kecil) dengan patung alat kelamin pria yang dikenal dengan oowasegata.

    Alat kelamin pria merupakan simbol kesuburan, berkah yang akan menjamin melimpahnya hasil panen.

  1. Kanamara matsuri
    Kanamara Matsuri yang memiliki arti dewa penis besi besar. Festival ini dilaksanakan pada minggu pertama bulan April dan masih bertahan dari abad 17 hingga sekarang. Dalam festival ini, alat kelamin pria dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuatan jahat.

    Konon katanya, dulu terdapat iblis yang bersembunyi di dalam vagina seorang gadis dan kemudian mengebiri kemaluan dua pria sekaligus. Lalu, para gadis meminta bantuan kepada pandai besi untuk membuatkan alat kelamin besi guna untuk mengusir setan tersebut.

  1. Kuil payudara
    Jepang mempunyai beberapa kuil yang menyembah payudara wanita. Dua di antaranya dikenal dengan kuil Ryuuon Ji atau terkenal dengan sebutan Mama Kannon di Aichi dan kuil Jison-in di Kudoyama, Wakayama.

    Di halaman kuil-kuil tersebut terdapat banyak sekali patung, boneka, atau jimat yang berbentuk payudara wanita. Payudara wanita sering kali dikaitkan dengan Kannon. Dalam mitologi jepang disebut dengan dewi welas asih.Konon, memuja sang dewi di kuil payudara akan memberikan berkah berupa kemudahan saat melahirkan.

  1. Onda matsuri
    Onda Matsuri dapat diartikan sebagai festival sawah. Festival ini diadakan pada minggu pertama pada bulan Februari. Pada saat perayaan tersebut berlangsung maka, akan diadakan juga ritual di kuil Asuka Ni Imasu.

    Ritual kesuburan ini dipercayai dapat membawa keberuntungan dalam perjodohan serta kehamilan.

Kesimpulan

Berikut festival unik yang mungkin hanya akan dirayakan di negara jepang. Meskipun terkesan sedikit terbuka dan terlalu sensual, Jepang masih mencoba mempertahankan tradisi yang mereka percaya secara turun-temurun yang berasal dari leluhur mereka.

Dari hal tersebut, ada hal positif yang sebenarnya bisa kita ambil, dimana Jepang dengan gigih masih mempertahankan budaya yang ada meskipun dunia modern semakin menggerus jaman. Semoga informasi ini berguna dan bermanfaat!

Leave a Reply

Your email address will not be published.